Bibir Sumbing

RSI AISYIYAH MALANG bekerja sama dengan SMILETRAINlogo_smiletrain

Memberikan bantuan operasi bibir sumbing GRATIS kepada setiap orang yang tidak mampu.

Bibir sumbing bukan kutukan!!! Tetapi bawaan lahir yang dapat disembuhkan melalui operasi sederhana dengan waktu sekitar 45 menit.

 

 
Jika Anda Tidak Mampu Membayar Biaya operasi silahkan menghubungi RSI Aisyiyah Malang Telp(0341) 326 773
 
Lazim diketahui bahwa bibir yang terbelah yang merupakan cacat bawaan, sudah dikenal sejak dahulu, akan tetapi problem yang di akibatkan oleh adanya bibir sumbing atau cleft palate ini selain problem personal-sosial, sangat jarang dibahas.Kelainan bawaan yang timbul saat pembentukan janin ini menyebabkan adanya celah di antara kedua sisi kanan dan kiri dari bibir. Kadang kala malah lebih luas, dapat mencapai langit-langit bahkan sampai dengan merusak estetika cuping hidung (labio-palato-gnato schizis).

Bayi yang dilahirkan dengan cacat seperti ini, akan mengalami kesulitan dalam koordinasi & pengolahan nafas, sehingga tanda paling awal adalah kesulitan menghisap saat menyusui. Anak bingung karena pada saat menghisap, ada cairan yang muncrat lari melewati lubang yang ada di langit-langit sehingga anak jadi tersedak. Tentu saja hal ini terjadi pada anak dengan celah bibir dan langit-langitnya panjang / luas.

Secara medis, hal ini diakibatkan adanya inkompetensi dari velofaringeal clossure, dimana seharusnya aliran rongga hidung ke saluran nafas itu terpisah dengan saluran makan dari rongga mulut. Secara anatomis normalnya kita memiliki langit-langit mulut yang membatasinya. Sehingga saat sedang makan atau minum anak akan bingung, kadang terlihat seperti berhenti bernafas, malas makan, padahal anak itu takut menelan karena dia tahu pasti akan tersedak.

Intervensi bedah dari sejawat dokter spesialis bedah plastik biasanya membuat koreksi deformitas tersebut dapat diatasi. Otomatis, intervensi sedini mungkin akan sangat membantu dalam mengejar pertumbuhan bahas maupun kematangan oromotor seorang anak. Biasanya dalam waktu 6 minggu pasca operasi, anak dapat memulai latihan aktif untuk stretching dan latihan koordinasi otot-otot mulut, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan vokal, lalu konsonan dsb. Untuk anak tentunya hal itu dilakukan sambil bermain.

Kendala yang paling saya rasakan apabila ketaatan pasien untuk latihan kurang, karena mereka (orangtua) hanya berpikir bahwa secara kosmetik toh anaknya sudah cakap karena celahnya sudah menutup, padahal tidak semua anak dapat meraih kemampuan bicara yang sama.

Kendala lain adalah beragamnya bahasa daerah. Terutama keluarga yang menerapkan bilingualistik di dalam pola asuh anak. Misalkan ayah dan ibu bicara dalam bahasa Indonesia, sedangkan anak dan pengasuhnya bicara dalam bahasa daerah. Wah, hal ini akan sangat memusingkan si anak, termasuk memusingkan saya juga yang bertugas sebagai dokternya.

Dalam hal ini kesepakatan dalam pola asuh, serta kedisiplinan latihan sangat penting karena periode emas tumbuh kembang anak ada pada periode awal kehidupannya.

Seperti dingat bahwa anak normal sampai usia 2 minggu s/d 1 bulan, suara yang dia hasilkan hanyalah reflek vokalisasi saja. Setelah menginjak umur 6 minggu, masuk dalam periode babbling nampak anak seperti senang bermain dengan ludahnya sendiri sambil mencucu. Lalu saat usia 6 bulan, mulailah anak meniru & mengulang semua kata yang didengarnya dalam periode Lalling. Saat ini pendengaran yang baik juga amat berperan besar, oleh karena itu, bantuan asesmen fungsi pendengaran oleh sejawat SpTHT sangat diperlukan. Kondisi anatomi oromotor (bibir, rongga mulut dan jaringan sekitarnya) yang baik juga akan berpengaruh dalam kematangan kemampuan bicara seorang anak.

Hal ini yang harus dikejar oleh tim dalam tatalaksana dan rehabilitasi kasus cleft palate yang diawali oleh deteksi dini oleh seorang dokter spesialis anak (SpA), kemudian seiring dengan kebutuhan, multidisiplin yang lain juga akan melengkapi.

sumber :

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9491

http://drsitichandrawsprm.blogspot.com/

Leave a Reply