Alergi Naik 3 Kali Lipat

Cegah Alergi sejak Dini untuk Tingkatkan Kualitas Hidup

Kejadian gangguan kesehatan berupa alergi belakangan meningkat hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Alergi ditemukan paling banyak pada anak usia di bawah dua tahun. Hal itu diduga akibat makin minimnya pemanfaatan air susu ibu secara optimal bagi bayi.

“Alergi yang paling banyak dialami adalah eksim, yaitu bercak merah dan gatal pada kulit bayi,” kata Zakiudin Munasir, pakar alergi dan imunologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam konferensi pers Selasa (21/2), di Jakarta.

Saat ini, di Indonesia belum ada angka pasti penderita alergi ini. Menurut Zakiudin, alergi paling banyak pada bayi usia di bawah dua tahun menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh. Faktor penyebab diduga akibat berkurangnya pemberian air susu ibu (ASI).

“Kebijakan yang bisa diusulkan kepada pemerintah, misalnya menambah cuti melahirkan. Selain itu, perlu juga penambahan fasilitas menyusui di tempat kerja,” kata Zakiudin.

Peningkatan kejadian alergi tiga kali lipat juga dinyatakan Center for Disease Control and Prevention (CDC) dari hasil riset tahun 1993 hingga 2006. Data Organisasi Alergi Dunia (WAO) juga menunjukkan, prevalensi alergi pada tahun 2011 meningkat 30-40 persen.

Luciana B Sutanto, dokter ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan, alergi dapat disebabkan makanan yang dikonsumsi. Jenis makanan yang paling sering menimbulkan alergi antara lain telur, susu sapi, kacang-kacangan, kedelai, gandum, dan ikan.

“ASI eksklusif sebaiknya diberikan sejak lahir hingga usia enam bulan,” kata Luciana.

Picture31

Cegah sejak dini

Menurut Zakiudin, pencegahan alergi seyogianya dilakukan sejak dini dengan mengetahui riwayat keluarga karena alergi bersifat genetik. Terlepas dari riwayat keluarga, setiap bayi memiliki risiko alergi 5-15 persen sehingga deteksi dini alergi menjadi pengetahuan yang penting.

“Sering kali orangtua tidak menyadari dampak alergi pada kualitas hidup anak di masa depan. Penderita alergi akan mengalami keterbatasan aktivitas belajar, bermain, sulit konsentrasi hingga sulit tidur,” kata Zakiudin.

Ia mengatakan, makanan probiotik sangat bermanfaat untuk pencegahan alergi. Ia mencontohkan, pemberian susu terhidrolisis atau susu dengan protein yang terhidrolisis secara parsial dapat mencegah risiko alergi.

 

sumber: Kompas, Rabu, 22 Februari 2012

 

Leave a Reply