Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Isolasi Mandiri di Rumah Bersama RSI Aisyiyah Malang

MALANG–Melonjaknya angka kematian dan pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia tentu membuat rumah sakit di tanah air kewalahan. Banyak pasien positif yang tidak mendapatkan kamar perawatan sehingga membuat mereka harus kembali ke rumah dan menjalankan isolasi secara mandiri.

Dalam tayangan live akun Instagram @rsiaisyiyahmalang (30/07/2021) dr. Camelia Qusnul Chotimah, Sp. PD selaku dokter spesialis penyakit dalam menyampaikan bahwa Isolasi mandiri dapat dilakukan di rumah tentu dianjurkan bagi orang tidak bergejala (OTG) dengan hasil swab antigen/PCR positif dan orang yang memiliki gejala ringan. Orang bergejala ringan di kategorikan seperti batuk, pilek, demam, sakit kepala, menggigil dan anosmia.

“Syarat frekuensi nafasnya juga normal, sekitar 12-20 kali/menit, atau saturasi oksigen lebih dari 95 persen itu boleh isolasi mandiri di rumah,” ujar dr. Camelia.

Ia juga menambahkan bahwasanya peralatan minimal yang harus disediakan pada saat isolasi mandiri yaitu thermometer (alat mengukur suhu badan), oximeter (alat pantau oksigen). Tentunya kedua hal ini menjadi alat untuk memantau pasien positif covid-19 sebab suhu tubuh dan oksigen menjadi salah satu tanda bahaya apabila dilihat dari suhu tubuh yang tinggi dan saturasi oksigen yang rendah. Tentunya apabila hal tersebut terjadi, maka pasien positif covid-19 harus segera ke rumah sakit untuk diberi penanganan media oleh dokter.

Tak hanya itu saja, lanjut dr Camelia apabila pasien positif covid-19 yang memiliki penyakit bawaan melakukan isolasi mandiri, maka selain thermometer dan oximeter, ia juga perlu menyiapkan tensimeter dan tabung oksigen. Alat ini menjadi tambahan bagi pasien covid-19 selama isolasi mandiri, mengingat keadaan rumah sakit yang sudah penuh.

Saat isolasi mandiri di rumah, tandas dr Camelia,  diusahakan untuk tetap lapor ke puskemas terdekat dan RT/RW karena jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka dapat segera ditindaklanjuti.

“Seperti kita ketahui sekarang banyak pasien positif yang isolasi mandiri meninggal, hal tersebut kemungkinan karena tidak dipantau, tidak dirawat, tidak ada fasilitas untuk mengecek keadaan pasien. Sehingga kita harus paham betul bagaimana isolasi yang aman saat dirumah,” pesan dr. Camelia.

Kemudian saat isolasi mandiri dirumah, apabila saturasi oksigen rendah, dr. Camelia merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan yaitu saat tidur posisi miring ke kanan atau ke kiri selama kurang lebih 30 menit, serta melakukan posisi prone positioning atau tengkurap lalu diberikan bantal di area panggul dan pastikan perut dapat bergerak dengan bebas juga nyaman.

Merawat pasien positif dirumah tidak diperbolehkan memegang barang yang sudah dipegang oleh pasien positif, disarankan menggunakan piring yang sekali pakai agar tidak terdapat kontak fisik antara anggota keluarga dirumah dengan pasien positif.

”Tetap isolasi mandiri menggunakan masker selama di rumah, menjaga jarak dari orang lain lebih baik lebih dari dua meter, menerapkan 6M, monitoring saturasi dan suhu tubuh secara rutin dan pastikan makan-makanan bergizi, minum vitamin, berjemur, tidur yang cukup dan apabila mampu untuk berolahraga ringan maka lakukanlah,” ucap dr. Camelia. (humas rsia)

Silahkan simak lebih lengkapnya di video IGTV kami di link berikut ini.

https://www.instagram.com/tv/CR8AsLrpRST/?utm_source=ig_web_copy_link

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

three × two =